Referensi Agama: TAFSIR AL-KHAZIN


TAFSIR AL-KHAZIN
PENDAHULUAN

Tafsir, dalam perspektif bahasa berarti memperlihatkan dan menyingkapkan. Makna bahasa ini tetap terbawa pada tataran teknis kajian tafsir, yang secara umum adalah usaha mengungkapkan dan menyingkap hal-hal yang terkandung dalam teks Al-Qur’an.
Upaya tersebut, agar dapat mengeluarkan dan menyingkapkan dengan benar, haruslah dilkakukan dengan metode dan teknik yang benar, meyakinkan serta absah. Pada masa awal sejarah Islam, hingga masa keterbelahan kajian Islam ke dalam aliran-aliran dan mazhab-mazhab, upaya yang benar tersebut berarti “selalu berada dalam naungan “’Ilm””. ‘Ilm yang dimaksud adalah pengetahuan yang mendapatkan legitimasi yang bersandar pada otoritas kebenaran agama, yaitu Rasulullah SAW. Dengan demikian “Al-‘Ilm” identik dengan “Riwayat” yang sah dan diterima.
Hal ini pulalah kemudian yang mempengaruhi kualifikasi dalam menafsirkan Al-Qur’an, yaitu tafsir yang menggunakan sandaran riwayat yang bersifat orotitatif lebih diutamakan -kalaupun ada kritik terhadapnya hanyalah mengenai kualitas riwayat yang digunakan-, dibandingkan dengan tafsir yang menggunakan Ra’y yang bahkan di masa-masa awal seperti yang disebutkan di atas (bukan berdasarkan “’Ilm”, sehingga hanya omong kosong), harus dipertanyakan.
Kondisi seperti ini tentu saja tetap tertanam dalam semua corak tafsir, di mana penafsir tetap menggunakan sandaran riwayat, walaupun di masa belakangan, dikategorikan tafsir yang menggunakan Ra’y. Pada perkembangan berikutnya, tatkala sarana dan prasarana tersedia oleh kemajuan peradaban, aktifitas penafsiran giat dilakukan, terdapat kecenderungan mengkaji Al-Qur’an tidak hanya mengenai hal mengungkapkap dan menyingkap, tapi lebih kepada pertanyaan “apa tujuan teks”. Untuk menemukan “tujuan” tersebut, maka dikenal istilah “ta’wil” sebagai medianya. Media yang digunakan untuk menemukan “tujuan” ini, tidak lagi sekedar “menggunakan informasi” yang tampak, tapi melampaui kepada segala macam asumsi dan pra-anggapan yang relevan dari sumber apapun.
Di antara tafsir dalam karakteristik ini adalah tafsir Al-Khazin, Abu Al-Hasan ‘Ala’ Al-Din Ali bin Muhammad bin Ibrahim, di bawah judul “Lubab Al-Ta’wil fi Ma’aniy Al-Tanzil”.

KAJIAN TERHADAP TAFSIR AL-KHAZIN
(LUBAB AL-TA’WIL FI MA’ANIY AL-TANZIL)

A. Biografi Singkat Al-Khazin
Beliau adalah Abu Al-Hasan ‘Ala’ Al-Din Ali bin Muhammad bin Ibrahim bin Umar bin Khalil Al-Shayhi Al-Baghdadi Al-Syafi’i Al-Sufi, lebih terkenal dengan gelar Al-Khazin. Gelar itu didapat karena beliau menjadi penjaga buku-buku Khanaqah (majlis tasawwuf) Al-Samaisatiyyah di Damaskus.
Al-Khazin dilahirkan di Baghdad pada tahun 678 H, yang pada saat itu Baghdad berada dalam kekuasaan raja ke dua dinasti Ilkhaniyyah setelah Hulagu, yaitu Abaqa (memerintah tahun 663-680 H), sedangkan Damaskus berada dalam kekuasaan Bani Saljuk. Beliau adalah orang yang baik perawakan dan pengasih dan beliaupun seorang sufi.
Ketika masih berada di Baghdad, beliau belajar kepada Ibn Al-Dualibi. Kemudian pergi ke Damaskus dan belajar kepada Al-Qasim bin Muzaffar dan Ummu Abdillah wazirah binti Umar bin Asad.
Beliau berkonsentrasi terhadap banyak cabang ilmu, juga seorang penulis yang produktif. Diantara karya beliau adalah Tafsir Al-Khazin yang berjudul Lubab Al-Ta’wil fi Ma’anyy Al-Tanzil, sebuah muhtasar terhadap kitab tafsir Al-Baghawi “Ma’alim Al-Tanzil”, Beliau juga menyusun kitab Maqbul Al-Manqul dalam 10 jilid, yang didalamnya terhimpun Musnad Imam Ahmad, Musnad Al-Shafi’i, Kutub Al-Sittah, Al-Muwatta’ Imam Malik dan Sunan Al-Daruqutni. Beliau juga mengarang kitab sejarah “Sirah Nabawiyyah” dengan format besar. Beliau wafat pada tahun 741 H di kota Halb.

B. Tinjauan Terhadap Tafsir Al-Khazin
Sebuah karya sekaliber tafsir Al-Khazin ini tentu saja tidak harus diamati dengan hanya menggunakan satu terspektif serta didukung dengan kedangkalan paradigm. Yang demikian itu akan menghadirkan sebuah sikap unfear (tidak adil) dan merupakan sebuah preseden buruk dalam pandangan ilmiah. Oleh karena hal inilah penulis, dalam hal mengamati karya ini, merasa penting untuk melukiskan apa dan bagaimana karya ini sebenarnya dalam perspektif pengarang sendiri agar terjaga ruang otonom sebuah karya dan ruang apresiasi.
Karya ini pada awalnya didedikasikan untuk menjadi sebuah ringkasan dari kitab tafsir Ma’alim Al-Tanzil Karya Al-Baghawi. Hal ini diketahui dari ungkapan Al-Khazin sendiri dalam muqaddimah kitab tafsirnya, “Tatkala saya mencermati kitab Ma’alim Al-Tanzil karya Al-Baghawi …. Kuatlah keinginan dalam hati saya untuk memilah-milah faidah yang cemerlang dari yang menipu.., ke dalam sebuah “muhtasar’ yang menghimpun makna tafsir dan esensi (lubab) ta’wil dan ta’bir”.
Kemudian dari itu, dalam menukil qawl-qawl yang terdapat dalam kitab Al-Baghawi, Al-Khazin sengaja membuang sanad-sanadnya agar ringkas dan menyandarkan sanad kepada kitab tersebut. Adapun mengenai nikilan yang disandarkan pada hadith dan khabar dari Rasulullah SAW, hanya disebutkan rawi pertama dari Sahabat, kemudian disebutkan mukharrij-nya dengan perlambangan huruf; Al-Bukhari dilambangkan dengan huruf Jim (ج), Muslim dilambangkan dengan huruf Mim (م), bila hadith yang disepakati oleh Al-Bukhari dan Muslim dilambangkan dengan huruf Qaf (ق). Bila dinukil dari kitab Sunan, seperti Sunan Abu Daud, Sunan Tirmizi dan lain-lain, disebutkan nama pengarang tanpa perlambangan. Bila dinukil dari Al-Baghawi dengan sanadnya sendiri, Al-Khazin menerangkan dengan ungkapan روى البغوى بسنده, dan bila dinukil dari Al-Baghawi dengan sanad Al-Tha’labi, Al-Khazin menyebutkan dengan ungkapan روى البغوى باسناد الثعلبى . Dan bila tidak ditemukan dalam riwayat-riwayat di atas, Al-Khazin berijtihad sendiri dengan mengambil dari berbagai kitab, seperti Jami’ Al-Ushul karya Ibn Al-Athir Al-Jaziri, Al-Jam’ bain Al-Sahihain Karya Al-Hamidi, kemudian Al-Khazin juga memberi penjelasan terhadap hadith gharib seperlunya.
Setelah menjelaskan metode yang dijalaninya, Al-Khazin kemudian menjelaskan sistematika penulisan.
Al-Khazin mengawali tafsirnya dengan lima Fasl:
1. Tentang keutamaan Al-Qur’an, Membaca dan Mempelajarinya,
2. Ancaman bagi orang yang mengatakan sesuatu terhadap –dan di dalam- Al-Qur’an dengan Ra’y-nya tanpa ‘Ilm, dan ancaman bagi orang yang dianugerahi hafal Al-Qur’an lalu lupa dan tidak bersungguh-sungguh mengulanginya,
3. Tentang pengumpulan Al-Qur’an dan tertib turunnya, dan tentang Al-Qur’an yang diturunkan dengan tujuh huruf,
4. Tentang Al-Qur’an diturunkan dalam tujuh huruf dan pendapat-pendapat seputar masalah tersebut, dan
5. Tentang makna tafsir dan ta’wil. Kemudian mulai menafsirkan Al-Qur’an, dari Ta’awwuz hingga akhir Surat Al-Nas.
Demikianlah Al-Khazin menjelaskan blue print dari karya tafsirnya. Adapun kemudian terdapat terdapat perluasan dari sekedar ringkasan, hal itu paling tidak layak untuk disikapi secara positif, antara lain bahwa (1) terdapat hal tak terduga dalam perjalanannya kemudian sehingga pengarang merasa perlu memberikan perluasan-perluasan, dan(2) terbangun motivasi peneliti untuk meneliti ulang karya ini dengan kualitas yang lebih baik.
Kemudian, untuk melihat karya ini dari dalam, maka penulis susun dalam sub-bab tersendiri yang berisi pengamatan internal terhadap tafsir ini dari sudut metodenya. Dalam hal ini penulis sediakan ruang analisa dan –bila perlu- kritik dengan acuan kajian metodologi ilmu tafsir. Acuan yang penulis gunakan seluruhnya merupakan sikap penulis, karena termasuk dari sikap ilmiah adalah “pemilihan data deskripsi” dan bahkan “diam”.

C. Metode Interpretasi Al-Khazin

C.1. Metode
Bila memandang ungkapan Al-Khazin yang dikutip di atas, dapat dilihat bahwa Al-Khazin memproyeksikan tafsirnya menjadi tafsir bercorak Riwayah/ bi Al-Ma’thur, sebagaimana manhaj yang dijalani Al-Baghawi.
Proyeksi atas keinginan tersebut diperlihatkan Al-Khazin dalam –hampir semua- ayat dalam kitab tafsirnya. Misalnya ketika mengawali penafsiran terhadap ayat pertama surat Al-Baqarah “الم”, Al-Khazin mengawali tafsirnya dengan menukil riwayat dari Abu Bakar Siddiq ra, Ali bin Abi Talib ra, dan Ibn Abbas ra, yang ketiganya adalah Sahabat. Tafsir yang dilakukan oleh Sahabat, yang walaupun tidak dinyatakan sandarannya kepada Rasulullah SAW secara langsung, namun telah disepakati dalam kalangan ahli tafsir bahwa tafsir Sahabat atas ayat Al-Qur’an secara langsung dikategorikan “mursal”, kecuali disebutkan sebagai pendapat sendiri atau terjadi perbedaan substansi penafsiran, maka dikategorikan riwayat Mauquf.
Dengan demikian, penafsiran terhadap sebagian ayat Al-Qur’an dengan menggunakan riwayat yang dinukilkan dari Rasulullah SAW, Sahabat dan –menurut kebanyakan ahli tafsir- dari Tabi’in, adalah ciri khas sebuah tafsir dikategorikan tafsir bi al-ma’thur.
Penggunaan riwayat sebagai sumber interpretasi dalam karya tafsir Al-Khazin ini sangat kentara dan bahkan lebih dari kitab tafsir Al-Baghawi yang sedang diringkas. Hanya saja penambahan yang dilakukan Al-Khazin terkadang berisi riwayat yang tidak bisa difungsikan untuk menafsirkan ayat. Seperti ketika menafsirkan ayat pertama Surat Al-Nisa’, pada kata من نفس واحدة dengan Bapak manusia yaitu Adam AS. Dalam menafsirkan kata ini tidak terdapat nukilan riwayat. Tapi ketika menafsirkan kata وخلق منها زوجها setelahnya, Al-Khazin seperti juga Al-Baghawi dan lainnya menafsirkan dengan “hawa” yang diciptakan dari tulang rusuk kiri Nabi Adam AS. Penafsiran ini, walaupun tidak disebutkan nukilan hadithnya, dapat dipahami bahwa ia merujuk pada Hadith …إن المرأة خلقت من ضلع. Terlepas dari diterima atau tidaknya hadith ini sebagai penafsir (karena tidak terdapat indikasi pengkhususan kepada Hawa) dari ayat di atas, Al-Khazin bahkan berpaling kepada membicarakan penciptaan Hawa dengan merujuk pada beberapa riwayat, serta polemik apakah ia (Hawa) diciptakan setelah atau sebelum masuk surga.
Penggunaan riwayat sebagai sumber (masdar)interpretasi yang tidak mengena inilah kemudian menjadikan peneliti masa belakangan tidak menggolongkan tafsir ini kedalam tafsir Bi Al-Ma’thur. Al-Namr sepakat kepada penggolongan tafsir ini sebagai tafsir bi Al-Ra’y, sebab bila melihat sumber yang digunakan, di samping penggunaan riwayat sebagai sumber interpretasi sangat sedikit, juga hanya diposisikan sebagai pelengkap. Adapun sumber utama adalah kaidah-kaidah lain; seperti kaidah bahasa, kaidah hukum, dan bahkan filsafat dan tasawwuf. Namun demikian ia tetap menggolongkan tafsir ini kedalam tafsir Al-Ra’yu Al-Mahmud (terpuji).
Namun Jamal Mustafa Al-Najjar mengkategorikan tafsir ini termasuk “jama’ah bain Al-ma’thur wa Al-Ra’y” (menghimpun riwayat dan ijtihad). Walaupun penggunaan riwayat dalam tafsir Al-Khazin ini lebih banyak sebagai pendukung dari sumber selain riwayat dari pada sebagai sumber interpretasi terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, pendapat Al-Najjar ini patut dipertimbangkan, (1) karena memandang motivasi pengarang, dan (2) karena mungkin saja tersirat sumber hadith yang tidak disebutkan nukilannya secara lengkap seperti ketika menafsirkan ayat di atas, dan Al-Khazin memang seorang ahli hadith.
Namun demikian penulis sepakat dengan kebanyakan peneliti bahwa Kitab Tafsir Al-Khazin ini digolongkan sebagai tafsir bi Al-Ra’y, dengan beberapa pertimbangan, diantaranya:
1. Kuantitas Riwayat yang dijadikan sumber interpretasi sangat sedikti. Misalnya ketika menafsirkan ayat pertama surat Al-Fatihah (بسم الله الرحمن الرحيم), Al-Khazin menyediakan lebih dari 2 halaman untuk membahas huruf, makna kata, asal kata (mushtaq) disertai pendapat-pendapat seputarnya, ditambah pembahasan Qira’at dengan menukil beberapa riwayat sehingga lengkap 3 halaman penuh. Hal ini berlaku pada seluruh ayat dalam surat ini, kecuali ketika menafsirkan kata الذين انعمت عليهم , المغضوب dan الضالين. Dalam ketiga kata tersebut, Al-Khazin menggunakan riwayat Ibn Abbas ra. dan ‘Adi bin Hatim. Demikian juga ketika menafsirkan آمين . Dengan demikian, dari 7 halaman yang disediakan untuk menafsirkan surat Al-Fatihah, Al-Khazin menempatkan –setidaknya- 5 halaman lebih penjelasan yang bukan bersumber pada riwayat.
2. Meninggalkan penggunaan riwayat yang ada untuk berpaling kepada penjelasan dari sumber selain riwayat, seperti ketika menafsirkan Surat Al-Nisa’: 1 di atas.
Penafsiran yang dilakukan Al-Khazin, dilihat dari tertib ayatnya, menggunakan metode tahlili di mana beliau menafsirkan sesuai urutan ayat sesuai urutan mushaf, tidak berdasarkan tema-tema tertentu atau sesuai urutan turun.
Adapun dalam menjelaskannya, beliau menjelaskan dengan rinci (tafsil) berkenaan dengan ayat yang sedang ditafsirkan berdasarkan keterangan yang jelas. Namun terkadang beliau juga mengkonfrontasikan beberapa pendapat yang tentu saja sesuai dengan motiv yang secara independen dimilikinya.

C.2. Kecenderungan
Al-Khazin adalah seorang tokoh Muslim yang memiliki keluasan ilmu yang luar biasa. Beliau menguasai berbagai disiplin ilmu secara mendalam, di antaranya; Fiqh, Bahasa dan sastra, tasawwuf, politik, sosial, Hadith dan tentu saja Al-Qur’an. Keluasan tercermin dalam –di antaranya- karya tafsir beliau yang sedang dibicarakan.
Oleh karena itu terdapat kesulitan besar untuk menetapkan kecenderungan tafsir yang terdapat dalam karya tersebut. Hemat penulis, tidak layak seorang peneliti mengklaim dengan menetapkan satu atau dua kecenderungan terhadap tafsir ini karena akan berarti menutup mata terhadap kecenderungan yang lain. Al-Zahabi –dengan tidak menyebut sebagai naz’ah (kecenderungan)- menganalisa dengan metode -yang menurut penulis- analisis content (content analysis), di mana beliau membuat daftar hal-hal yang mencolok (التوسع) dalam tafsir Al-Khazin diantaranya; banyak membicarakan hal-hal yang termasuk pembahasan fiqh, dan nasehat-nasehat (tasawwuf).
Seperti ketika membicarakan ayat-ayat yang bermuatan hukum, Al-Khazin banyak memberikan tambahan penjelasan tentang mazhab-mazhab fiqih dan dalil-dalil istinbat hukumnya. Karena banyaknya porsi aspek hukum ini, Al-Zahabi mengungkapkan dengan kata اقحم (melimpah, berhamburan).
Pada ayat 226 surat Al-Baqarah –sekedar untuk illustrasi- :
للذين يؤلون من نسائهم تربص أربعة أشهر فإن فاؤوا فإن الله غفور رحيم
Al-Khazin mengawali dengan menjelaskan Ila’ dengan makna bahasanya, kemudian makna istilah syara’. Lalu diselingi dengan riwayat Ibn Abbas ra., dilanjutkan lagi menjelaskan makna bahasa dari kata تربص dan فاٍن فاؤوا. Sampai tahap ini penjelasan hanya menghabiskan tidak lebih dari 12 baris. Setelah itu, masuk pada penjelasan furu’ tentang yang berkenaan dengan hukum pada ayat ini. Furu’ ini dibagi dalam 5 bagian. Penjelasan ini memakan lebih dari setengah halaman. Hal serupa pada ayat 228, bahkan pembicaraan mengenai aspek hukum ditambah dengan mengkomparasikan dua mazhab; Hanafi dan Shafi’i. ditambah dengan pembicaraan khusus mengenai masalah-masalah hukum iddah. Bila kita membaca dua ayat di atas dalam kitab tafsir Al-Khazin tidak ubahnya kita sedang membaca kitab fiqh.
Demikian pula pencantuman hal-hal yang berkenaan dengan tasawwuf. Tasawwuf yang penulis maksud di sini bukan tentang detail tasawwuf. Tapi lebih kepada muatan esensial dari ajaran tasawwuf, yaitu membahas tafsir terhadap ayat dengan cara mengambil kaidah-kaidah tasawwuf sebagai dasar paradigmanya. Adapun detailnya, boleh jadi muncul berupa faidah-faidah, anjuran-anjuran atau nasehat-nasehat, ataupun melalui syair.
Kecenderungan ini banyak terselip dalam karya tafsir Al-Khazin, namun secara jelas ketika menafsirkan ayat 16 Surat Al-Sajdah ( تتجافى جنوبهم …), Al-Khazin menyebutkan sebab turunnya tanpa mengutip matan riwayat (hanya pemahaman dari riwayat tersebut) disertai dengan penjelasan sumber dan penilaian terhadap riwayat tersebut. lalu menukil pendapat berdasarkan riwayat dari Sahabat dan Tabi’in. Semua penjelasan di atas dipaparkan Al-Khazin kurang dari 8 baris. Kemudian Al-Khazin membuka sati Fasl dengan tema “Tentang keutamaan Qiyam Al-Lail dan ajuran melaksanakannya”. Tentang Fasl ini Al-Khazin menyediakan hampir satu halaman penuh.
Muatan kecenderungan “batini” inilah yang menyebabkan Amir Abd Al-Aziz menghukum tafsir ini sebagai Al-Ra’y Al-Mazmum.
Namun penghukuman tersebut –menurut hemat penulis- terlalu tergesa-gesa dan sepihak. Sebab, kalaupun banyak terselip unsur tasawwuf, namun kebanyakannya tetap bersandar pada Hadith, Athar Sahabat dan Qawl Tabi’in yang dalam posisinya adalah sah.
Dalam hal kecenderungan lughawiyy, guna menjelaskan makna ayat yang sedang ditafsir, banyak menggunakan penjelasan kaidah bahasa; nahw, sharaf dan balaghah, yang dalam banyak tempat bahkan disertakan polemik dan perbedaan pendapat dalam disiplin tersebut..

D. Penggunaan Israiliyyat
Adapun mengenai riwayat Israiliyyah, Al-Khazin menyediakan banyak tempat untuk riwayat-riwayat yang tidak dijelaskan benar dan dustanya. Terkadang memang diberikan penilaian terhadap riwayat israiliyyah yang dinukil, tapi jarang.
Misalnya dalam menafsirkan ayat 21-24 Surat Sad, وهل اتاك نباً الخصم … hingga kalimat وخرّ راكعا وأناب , Al-Khazin menceritakan cerita-cerita yang tidak beda dengan dongeng, dimana setan datang kepada Nabi Daud as. secara tiba-tiba dengan bentuk burung merpati emas yang sangat cantik dan indah. Begitu juga dengan kisah perempuan cantik yang membuat Nabi Daud jatuh hati dan berusaha memisahkan dengan -hingga membunuh- suaminya. Dalam menceritakan kisah ini Al-Khazin bahkan tidak menyebutkan kata قيل.
Di banyak tempat dalam tafsirnya, Al-Khazin menukil riwayat israiliyyah yang jumlahnya bahkan lebih banyak dari kitab Al-Baghawi dan Al-Tha’labi yang menurut pengakuan Al-Khazin adalah merupakan ringkasan dari tafsir Al-Baghawi (dan tafsir Al-Baghawi merupakan ringkasan dari tafsir Al-Tha’labi).
Al-Zahabi mengakhiri pembahasan tentang Al-Khazin dan kitab tafsirnya berdo’a semoga yang tidak layak dalam tafsir ini tertutupi dengan banyaknya manfaat yang disumbangkan untuk ilmu dan agama. Demikian pula Jam’ah Ali Abd Al-Qadir, seraya berharap ada orang yang bertindak memisahkan dalam tafsir ini antara yang berlebihan dan yang pas, dan antara yang benar dan yang salah.

PENUTUP
Dari pemaparan di atas dapatlah kiranya penulis simpulkan :
1. Dengan tidak menghilangkan penghargaan terhadap sebuah karya besar, kita temukan bahwa bahwa status tafsir bi Al-Ma’thur yang dilengkapi dengan Al-Ra’y yang diinginkan Al-Khazin dalam perjalanannya tidak lagi mendapatkan momen perimbangan, sehingga tepatlah penilaian kebanyakan peneliti bahwa tafsir Al-Khazin termasuk kategori bi Al-Ra’y.
2. Tidak diragukan lagi terdapat banyak hal yang melemahkan status tafsir pada karya Al-Khazin ini, namun demikian tidak serta merta menafikan banyaknya manfaat yang disumbangkan karya agung ini.
3. Bila diperlukan saran, maka yang paling penting bagi tafsir ini adalah adanya kajian lanjutan yang bisa menyortir dan mengembalikan keseimbangan seperti yang dikehendaki Sang Pengarang yang ahli ini.

hanya keranaNya

Sesungguhnya kemuliaan ialah hak bagi kedua-dua orang yang berkasih sayang kerana Allah S.W.T. Dimana pada hari tersebut (kiamat) Allah Taala Rabbul Izzah menyeru mereka dan mempersilakan mereka untuk menerima anugerah yang paling tinggi, iaitu pada hari berhimpunnya...

Akhirul Kalam: Wanita-wanita Perindu Syurga

Setiap insan tentunya mendambakan kenikmatan yang paling tinggi dan abadi. Kenikmatan itu adalah Syurga. Dalam Al Qur'an banyak sekali ayat-ayat yang menggambarkan kenikmatan-kenikmatan Syurga."(Apakah) perumpamaan (penghuni) Syurga yang dijanjikan kepada orang-orang...

hati terjauhlah dari korban dunia

Sesekali hati mengeluh dengan kesusahan dan kepayahan hidup. Terasa pedih dan rapuh, sakitnya seperti tiada hati lain yang mampu mengerti. Namun tidak tersedarkah hati itu adalah ujian dari Tuhannya? Kepayahan itu sesungguhnya adalah bentuk tarbiyahNya kepada hati....

tafsir talqin

Peringatan Untuk Yang HidupMahasuci Tuhan yang Engkau bersifat dengan Baqa' dan Qidam, Tuhan yang berkuasa mematikan sekalian yang bernyawa, Mahasuci Tuhan yang menjadikan mati dan hidup untuk menguji siapa yang baik dan siapa yang kecewa.Mahasuci Tuhan yang...

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.