PERKEMBANGAN TASAWWUF PADA MASA ABBASIYAH


PERKEMBANGAN TASAWWUF PADA MASA ABBASIYAH
by Sariono Sby
PENDAHULUAN
Permasalahan teologi yang ingin dikukukuhkan Al-Ma’mun (w. 218 H) menjadi identitas konkrit bagi Agama Islam dijalankan dengan ambisi yang diatas-namakan proyek negara, ternyata membuahkan perkembangan ilmu yang progresif. Sumber pengetahuan dari belahan dunia manapun, sepanjang diketahui keberadaannya, sedapat mungkin diambil, kemudian dieksplorasi.
Kecenderungan paradigma para ilmuanlah yang kemudian membentuk perbedeaan-perbedaan- yang dari sudut pandang ideology dan politik- teoritis menjadi terlihat tajam dan seakan tidak pernah ada titik temu.
Tema-tema tentang Ketuhanan beserta sifat absolut-Nya, dapat diketahui dengan menggunakan akal atau tidak, pengetahuan yang didapat oleh akal mempunyai supremasi atas kebenaran secara mandiri atau tidak, dan tema-tema yang lain, pada gilirannya mempengaruhi semua bidang ilmu-ilmu keagamaan dan bahkan sistem sosial yang mengkonsumsinya.
Perbedaan paradigma ini lalu membentuk tradisi-tradisi pemikiran dan kemudian terkristalisasi menjadi ideologi-ideologi. Lebih jauh lagi berhubungan dengan kepentingan politik, apapun motivnya. Kondisi konflik ini terus terbawa hingga runtuhnya Baghdad yang menjadi simbol kejayaan kekhalifahan Bani Abbasiyah oleh Bani Saljuk Turki.
“Pertarungan” dua paradigma di atas membuahkan suatu ruang intelektual alternatif yang berkembang cukup pesat dan mengakar dalam masyarakat, yaitu Tasawwuf.
Di satu sisi terdapat wacana tentang kemunculan tasawwuf, bahwa ia merupakan buah dari kondisi dialektis dinamika sosial. Di mana ia merupakan respon terhadap perilaku foya-foya dan perilaku menyimpang dari Akhlak Islam. Kalau wacana ini benar, maka respon ini tentu saja tidak hanya untuk masa pemerintahan Kekhalifahan Bani Abbasiyah, khususnya pada zaman Al-Ma’mum dan setelahnya. Pendapat inilah yang cenderung dipilih oleh Ahl Tasawwuf.
Namun pada pendapat ini muncul pertanyaan, kalau sarananya adalah respon perilaku, mengapa harus menunggu selama dua abad baru muncul (bila diterima bahwa sufi awal adalah Al-Fudail bin ‘Iyad (w. 113 H) atau lebih awal Hasan Al-Bisri (w. 110 H) dan tiga abad untuk berkembang?.
Berangkat dari dua wacana sebagai mana tersebut di atas, penulis mengawali tulisan ini dengan membahas sekilas tentang definisi tasawwuf hanya sekedar untuk melacak kemunculan Tasawwuf dengan –sedapatnya- menghindari polemik yang memang telah ada sejak awalnya, kemudian membicarakan tentang sejarah perkembangan dan ajarannya.

PERKEMBANGAN TASAWWUF
PADA MASA KEKHALIFAHAN BANI ABBASIYAH

A. Definisi
Secara umum tasawwuf dipandang sebagai falsafah kehidupan (Al-Hayat). Ia juga merupakan cara yang meyakinkan dalam menjalani usaha-usaha penyempurnaan akhlak, ketundukan (‘Irfan) dan untuk mendapatkan kebahagiaan jiwa (Al-Sa’adah Al-Ruhiyyah).
Istilah tasawwuf sendiri hingga hari ini masih belum ditemukan kata sepakat tentang asal kata (al-mushtaq) dan dari tradisi apa ia muncul (al-masdar).
Bila kita melihat dari perspektif tasawwuf, perbedaan definisi hanyalah merupakan perbedaan cara memahami dan mengungkapkan kondisi yang dialami (al-ahwal). Dalam hal ini dapat dilihat dari dua arah:
1. Dilihat dari praktek. Maka bila melihat praktek faqir dan zuhud, misalnya, muncul pendapat yang mengatakan bahwa istilah tasawwuf berasal dari kata “Al-Sauf” (kain wol kasar), atau “Al-Suffah” (sebutan bagi sekelompok orang pada Masa Rasulullah SAW yang berdiam di samping masjid Nabawi, tidur di atas batu kasar atau pelepah korma).
2. Dari kualitas yang dicapai. Dari sini muncul pendapat bahwa ia berasal dari kata “al-safa’” yang berarti bersih, atau dari kata “al-saff” (Shaf terdepan di hadapan Allah SWT).
Perbedaan seperti di atas, karena sifatnya hanya refleksi interpretatif, dapat saja bermunculan definisi yang lain yang mungkin berbeda sama sekali dari yang telah disebutkan.
Namun bila masuk lebih dalam melihat mazhab-mazhab tasawwuf, setidaknya ada empat unsur yang sama, yaitu:
1. Bahwa ilmu ini bersifat Gnostic (idrakiyyah), di mana ilmu hanya diperoleh dalam keadaan ekstase (halat al-ma’rifah) melalui Mukashafah, bukan dengan pembuktian berdasarkan dalil-dalil.
2. Hal Ma’rifah tersebut tidak bisa disifatkan dan digambarkan karena bersifat zauq (rasa, ing: taste) yang, kalaupun bisa diungkapkan kepada orang lain, hanya bisa diungkapkan dengan bahasa yang halus dan dalam.
3. Kondisi ekstase tersebut tidak berlangsung terus menerus, tetapi athar (pengaruh)-nya tetap ada pada diri sang ‘Arif.
4. Bersifat pasif, artinya mukasyafah yang terjadi bukan atas kehendak san Sufi, tapi karena anugerah Allah SWT an sich.
Dari sini setidaknya kita telah dapatkan gambaran tentang definisi tasawwuf yang diambil dengan cara mencari titik temu dari perbedaan-perbedaan yang ada, titik temu itu bermuara pada satu hal, yaitu akhlaq. Oleh karena itu tidak berlebihan bila –tegas Al-Taftazani mengutip- Ibn Qayyim Al-Jauzi menyatakan : “Semua ahli dalam ilmu ini sepakat bahwa al-tasawwuf itu adalah Al-Khulq”. Senada dengan ini, Al-Kinani: “Tasawwuf adalah Khulq, maka kalau bertambah akhlaq-mu, maka bertambahlah kesucian (al-Safa’) mu”.

B. SEJARAH TASAWWUF
Kebanyakan sarjana meyakini bahwa Tasawwuf muncul pada paruh akhir abad ke II Hijrah/ IX Masehi dan berkembang pesat abad ke III Hijrah/ X Masehi. Hal ini karena sistem pengamatan menghendaki ada motivasi yang dapat diamati dalam realitas kontekstual. Namun bagi kaum sufi sendiri yang memandang dari sudut realitas internal dan mempunyai tendensi untuk memberikan penekanan paradigma yang mengakar, tentu saja akan mengatakan bahwa kemunculan tasawwuf telah ada sejak zaman Rasulullah.
Al-Taftazani, mendahului pembahasannya dengan men-generalisasi ciri umum tasawwuf, yang kemudian mengawali pembicaraan tentang perkembangan tasawwuf berdasarkan ciri umum tersebut. Hal ini menarik karena penetapan “marhalah”nya jadi berbeda dengan dikotomi seperti yang penulis sebutkan di pendahuluan, dimana, pertama kita tidak perlu mencari kemunculan tasawwuf dengan mencari kapan nama itu digunakan, untuk ditandai sebagai awal, misalnya. Dan kedua, juga menghindari klaim sandaran ekstrim kepada Rasulullah dan Sahabat, karena tidak bisa diuji dengan ciri umum yang telah dibahasnya. Oleh karena itu kita akan mengikuti jalan pikiran ini dalam melihat sejarah tasawwuf.

1. Fase Pertama
Fase ini disebut dengan fase Zuhud, pada abad ke-I dan II Hijrah. Fokus Ahl Tasawwuf pada fase ini adalah ibadah dan taqarrub (Mendekatkan diri kepada Allah), serta mempraktekkan sikap zuhud dalam segala segi kehidupan, seperti dalam sandang pangan dan papan. Amal mereka dalam fase ini semata-mata ditujukan untuk akhirat, dan suluk mereka memberi pengaruh besar dalam kehidupan pribadi dan masyarakat.
Dalam fase ini kita tidak melihat adanya unsur luar dan tendensius (pertarungan ideologi, politik, filsafat dan pengukuhan eksistensi) yang mempengaruhinya. Yang ada hanya pengaruh dari dalam, yaitu spirit beragama yang berlandaskan Al-Qur’an, Sunnah dan petunjuk Sahabat.
Ciri khusus fase ini hanya merupakan, pertama, upaya menunjuk praktek akhlaq yang diusahakan untuk memberi jawaban terhadap berkurangnya kualitas penghambaan kepada Allah setelah wafatnya Rasulullah SAW dan hampir habisnya sahabat. Keseluruhannya hanya menyangkut kesadaran esoteric yang muncul dari dalam, dan unsur yang mempengaruhinyapun bersifat internal.
Yang kedua, khususnya pada abad ke II Hijrah, memang terdapat isu-isu politik dan sosial yang perlu direspons atas nama agama, namun pengaruhnya tidak cukup kuat untuk membentuk sikap oposisi yang terkristallisasi dalam bentuk pandangan beragama dengan orientasi ibadah.
Tokoh-tokoh utama pada fase ini antara lain; Sa’id ibn Al-Musayyab (w.91 H) dan Salim ibn Abdullah (w. 106 H), keduanya dari Madinah. Al-Hasan Al-Bisri (w. 110 H), Malik bin Dinar (w. 131 H), Sa’id ibn Jabir (w. 95 H), Rabah ibn Umar Al-Qays (w. 195 H) dan Abd Al-Wahid ibn Zaid (w. 177 H), mereka adalah sebagian tokoh utama dari Basrah. Di Kufah antara lain, Tawus ibn Kisan (w. 106 H), Sufyan Al-Thuri (w. 161 H), dan Sufyan ibn ‘Uyaynah (wafat di Mekkah tahun 198 H). Di Mesir ada Salim ibn ‘Atr Al-Tajibi (w. 75 H), Nafi’ Maula Abdullah ibn Umar (w. 117 H) dan Al-Laith ibn Sa’ad (w. 175 H).
Ajaran utama Tasawwuf fase ini adalah zuhd. Konsep ini berbeda dengan zuhd pada fase belakangan, di mana pada fase ini zuhd berarti menyediakan waktu lebih banyak untuk beribadah dan taqarrub, dan mengesampingkan hal-hal yang dapat mengurangi kualitas ibadah, seperti mengurangi makan dari ukuran umum, hati tidak disibukkan dengan kepentingan dunia, apapun bentuknya.

2. Fase Kedua
Di dalam fase kedua ini (abad III dan IV H.), kita temukan kaum sufi (as-sufiyah) telah masuk dalam lingkaran pembahasan tentang esensi kondisi jiwa dan suluk. Perkembangan doktrin tingkah laku dan doktrin-doktrin kejiwaan ditandai dengan upaya menegakkan moral ditengah dekadensi moral di segala level. Hal ini terjadi sebagai respon terhadap kecenderungan foya-foya dan hidup mewah di lingkungan istana khususnya di masa setelah berakhirnya kekhalifahan Al-makmun (berkuasa pada 198-218 H).
Di tangan para sufi, pada fase ini tidak lagi sekedar mengamati masalah ibadah dan praktek taqarrub namun telah masuk dalam ajaran-ajaran moral keagamaan. Perhatian mereka lebih tertuju pada realita sosial dan meresponnya dengan cara memberikan pandangan-pandangan eksotis yang bisa melepaskan diri dari kekacauan hidup. Pada fase inilah tasawwuf berkembang pesat di tengah masyarakat.
Fase ini ditandai dengan berdirinya sekolah-sekolah yang berbasis tasawwuf. Sekolah-sekolah tersebut telah mereflesikan corak-corak khusus yang membedakaan satu dengan yang lainnya namun belum terdapat kecenderungan membentuk aliran Tariqah (sebuah istilah untuk menunjuk kelompok-kelompok aliran yang tidak lagi berbicara tentang konsep tasawwuf, hanya mengambil satu aliran pemikiran, itupun terbatas pada hal-hal yang bersifat praktis, seperti zikir bersama).
Pada fase ini istilah-istilah yang digunakan tidak lagi parsial, berdasarkan amalan terpenting seseorang, seperti pada fase pertama (seperti zahid, wara’, khalis dan lain-lain), tetapi telah menjadi satu sebutan yaitu Sufi.
Selain itu, kaedah-kaedah teoritis telah diajar secara mandiri beserta kaedah terapannya yang telah ditulis ke dalam kitab-kitab khusus. Oleh karena itu telah muncul istilah Ma’rifah, teori Maqam, keadaan-keadan orang yang berada pada Maqam tersebut, seperti Fana, Ittihad dan hulul.
Perkembangan Tawawwuf pada fase ini –tidak bisa dipungkiri- telah dipengaruhi oleh persinggungan yang intensif dengan sumber-sumber pengetahuan dari luar Islam; Filsafat Barat dari tradisi Romawi dan Yunani, tradisi kuno Persia dan Kerahiban Kristen. Sehingga muncul istilah-istilah yang ungkapannya berbahasa Arab namun maknanya melampaui makna yang diketahui oleh orang Arab pada masa sebelumnya. Demikian pula halnya dengan praktek amaliah sufi, telah berbaur dengan hal-hal yang bid’ah, seperti Sima’ (mendengar syair dengan musik dan berjoged).
Tokoh-tokoh Sufi fase ini antara lain; Abu Sualiman Abd Al-Rahman bin ‘Atiyyah Al-Darani (w. 215 H), Abu Al-Fayd Zu Al-Nun Thauban bin Ibrahim Al-Misri (w. 240 H), Abu Al-Qasim Al-Junaid bin Muhammad (w. 297), Al-Husain bin Mansur Al-Hallaj (w. 309 H).
Ajaran pokok tasawwuf pada fase ini antara lain Ma’rifah (puncak hakikat pengetahuan yang bersifat zauqiyyah) yang diperoleh ketika menjalani amal Syar’i pada titik puncak kebersihan hati, Suluk, fana, hulul, ittihad.

3. Fase Ketiga
Fase ini (Abad ke V dan VI Hijrah) ditandai dengan terbelahnya ajaran Tasawwuf secara substansial menjadi dua kelompok; tasawwuf yang dipengaruhi oleh sumber-sumber dari luar islam, dan kelompok yang melandingkan isu pembaharuan tasawwuf untuk kembali dalam jalur Al-Qur’an dan Sunnah, dan Manhaj Salaf Al-Salih.
Pada tahap ini pertentangan hanya dalam masalah pendidikan, di mana pengetahuan Zauqiyyah sufi yang diperoleh ketika ekstase diungkapkan dengan vulgar dan dengan rasionalisasikan dengan bahasa yang tidak terdapat padanannya dalam ungkapan biasa, sehingga ada yang memahami dengan interpretasi dan ada yang memahami apa adanya. Oleh sebagian yang lain, keadaan seperti ini tidak layak dilakukan.
Ciri lain dari periode ini adalah banyaknya karya yang ditulis mengenai tasawwuf, baik dengan corak filsafat maupun dengan tasawwuf murni, di samping gencarnya upaya pembaharuan oleh golongan Sunni karena banyaknya kecaman terhadap praktek tasawwuf yang dianggap menyeleweng dari Syari’at.
Pada fase ini juga telah muncul aliran-aliran Tariqah dengan teknik-teknik suluk tertentu yang masing-masing memiliki ciri khusus yang membedakan dengan tariqah yang lain.
Pada tahap inilah Tasawwuf mendapatkan momen kemapanan teoritis yang dikukuhkan menjadi salah satu dari pilar ajaran agama, yaitu Fiqh, Tauhid dan Tasawwuf.
Di antara tokoh terpenting fase ini, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali (w. 505 H), Al-Qusyairi (w. 465 H), Abd Al-Qadir Al-Jailani (w. 561 H) dan Ahmad Al-Yasafi (w. 562).
Ajaran penting pada fase ini adalah pemurnian Tauhid dan Amalan sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Di samping itu Tariqat, sebagai sebuah institusi dari suatu mazhab tasawwuf, telah mulai dimunculkan. Hal ini menandakan penyempitan makna tasawwuf di masa mendatang dari sebuah ajaran orisinil, kemudian berkembang dengan dialektika ilmiah dan kecenderungan praktis yang luas menuju keterbelahan total yang bahkan tidak lagi menyediakan ruang diskusi.

PENUTUP

Dari pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa kemunculan tasawwuf walaupun embrionya telah ada sebelum berdirinya Dinasti Abbasiyah, namun dapat dilacak secara utuh dalam segala periode kekuasaan Abbasiyah.
Pada perkembangannya, terdapat kriteria-kriteria tertentu yang dapat digeneralisasi sebagai penanda –walaupun tidak dapat diberlakukan secara ketat- yang bersifat kontiniu dari suatu fase ke fase berikutnya.

hanya keranaNya

Sesungguhnya kemuliaan ialah hak bagi kedua-dua orang yang berkasih sayang kerana Allah S.W.T. Dimana pada hari tersebut (kiamat) Allah Taala Rabbul Izzah menyeru mereka dan mempersilakan mereka untuk menerima anugerah yang paling tinggi, iaitu pada hari berhimpunnya...

Akhirul Kalam: Wanita-wanita Perindu Syurga

Setiap insan tentunya mendambakan kenikmatan yang paling tinggi dan abadi. Kenikmatan itu adalah Syurga. Dalam Al Qur'an banyak sekali ayat-ayat yang menggambarkan kenikmatan-kenikmatan Syurga."(Apakah) perumpamaan (penghuni) Syurga yang dijanjikan kepada orang-orang...

hati terjauhlah dari korban dunia

Sesekali hati mengeluh dengan kesusahan dan kepayahan hidup. Terasa pedih dan rapuh, sakitnya seperti tiada hati lain yang mampu mengerti. Namun tidak tersedarkah hati itu adalah ujian dari Tuhannya? Kepayahan itu sesungguhnya adalah bentuk tarbiyahNya kepada hati....

tafsir talqin

Peringatan Untuk Yang HidupMahasuci Tuhan yang Engkau bersifat dengan Baqa' dan Qidam, Tuhan yang berkuasa mematikan sekalian yang bernyawa, Mahasuci Tuhan yang menjadikan mati dan hidup untuk menguji siapa yang baik dan siapa yang kecewa.Mahasuci Tuhan yang...

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.