Kawaii Aniichan: MAKALAH PENGEMBANGAN KURIKULUM PAI








Kawaii Aniichan: MAKALAH PENGEMBANGAN KURIKULUM PAI





MAKALAH PENGEMBANGAN KURIKULUM PAI

MAKALAH
PENGEMBANGAN KURIKULUM PAI
Disusun untuk Memenuhi Tugas Terstruktur
Mata Kuliah Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum
Pada Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI D) SMTR III
Dian Nurul Hikmah                (1414113124)
Lika Wati                                (1414113133)
Moh Rofiq Rahman                (1414113139)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH
DAN KEGURUAN (FITK)
INSTITUT AGAMA ISLAM
NEGERI (IAIN)
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat limpahan dan rahmat-Nya kami
dapat menyelesaikan tugas makalah ini guna menunjang salah satu tugas
terstruktur mata kuliah “Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum”. Shalawat serta
salam tak lupa juga kami curahkan kepada Nabi Muhammad SAW, beserta
keluarganya,  para sahabatnya dan seluruh
umatnya.
Atas dukungan moral dan materi yang diberikan dalam penyusunan
makalah ini, maka penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada bapak Drs. H.
Nawawi, M.Pd selaku dosen mata kuliah Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum yang
memberikan bimbingan, saran, ide dan kesempatan untuk membuat makalah. Semoga
makalah ini dapat menjadikan wawasan yang lebih luas dan memberikan sumbangan
pemikiran kepada pembaca khususnya para Mahasiswa/i IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
Kami menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kami
mengharapkan saran dan kritik dari pembaca demi perbaikan pembuatan makalah
dimasa yang akan datang.
                                                                             Cirebon,
November 2015
                                                                                    Penulis
Kata Pengantar…………………………………………………………..           i   
Daftar Isi……………………………………………………………….…           ii   
A.    Latar Belakang….……………………………………………..        1
B.     Rumusan Masalah………………………………………………        1
C.     Tujuan Penulisan……………………………………….……….         2
A.    Pengertian Pengembangan Kurikulum PAI………………………..         3
B.     Tujuan Kurikulum
PAI……………………………………………………..         
4
C.     Fungsi Kurikulum PAI……………………………………………………..         
6
D.    Pengembangan Kurikulum
PAI………………………………………….         7
A.    Kesimpulan……………………………………………………          18
B.     Saran………….………………………………………………....          20
DAFTAR
PUSTAKA……………………………………………………………………          
 21
Pengembangan kurikulum adalah istilah yang
komprehensif, didalamnya mencakup perencanaan, penerapan dan evaluasi.
Perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja
kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan
perencanaan yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik. Penerapan
kurikulum atau biasa disebut juga implementasi kurikulum berusaha mentransfer
perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional. Evaluasi kurikulum
merupakan tahap akhir dari pengembangan kurikulum untuk menentukan seberapa
besar hasil-hasil pembelajaran, tingkat ketercapaian program-program yang telah
direncanakan dan hasil-hasil kurikulum itu sendiri.
Pada prinsipnya pengembangan kurikulum berkisar pada
pengembangan aspek ilmu pengetahuan dan teknologi yang perlu diimbangi
perkembangan pendidikan. Manusia, disisi lain sering kali memiliki keterbatasan
kemampuan untuk menerima, menyampaikan dan mengolah informasi, karenanya
diperlukan proses pengembangan kurikulum yang akurat dan terseleksi dan
memiliki tingkat relevansi yang kuat. Dalam hal ini merealisasikannya maka
diperlukan suatu model pengembangan kurikulum dengan pendekatan yang sesuai.
B.    
Rumusan Masalah
1.     
Apa pengertian
pengembangan kurikulum PAI?
2.     
Apa tujuan
kurikulum PAI?
3.     
Bagaimana
fungsi kurikulum PAI?
4.     
Bagaimana
pengembangan kurikulum PAI?
C.   
Tujuan
Penulisan
1.     
Mahasiswa/i mampu
memahami pengertian pengembangan kurikulum PAI
2.     
Mahasiswa/i
mampu memahami tujuan kurikulum PAI
3.     
Mahasiswa/i
mampu memahami fungsi kurikulum PAI
4.     
Mahasiswa/i
mampu memahami pengembangan kurikulum PAI
A.   
Pengertian Pengembangan
Kurikulum PAI
Pengertian kurikulum pendidikan agama Islam sebenarnya tidak jauh
berbeda dengan kurikulum secara umum, perbedaannya hanya terletak pada sumber
pelajarannya saja. Sebagaimana yang diutarakan oleh Abdul Majid dalam bukunya “Pembelajaran
Agama Islam berbasis Kompetensi,
mengatakan bahwa kurikulum pendidikan
agama Islam adalah rumusan tentang tujuan, materi, metode, dan evaluasi
pendidikan yang bersumber pada ajaran agama Islam.
Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam
menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani
ajaran agama Islam, dibarengi dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama
lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud
kesatuan dan persatuan bangsa. Menurut Zakiyah Daradjat pendidikan agama Islam
adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa
dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh.
Pengembangan kurikulum adalah kegiatan untuk menghasilkan kurikulum
baru melalui langkah-langkah penyusunan kurikulum atas dasar hasil penilaian
yang dilakukan selama periode tertentu, pengembangan kurikulum berarti
perubahan dan peralihan total dari satu kurikulum ke kurikulum lain, dan
perubahan ini berlangsung dalam waktu panjang.
Menurut Oemar Hamalik, pengembangan kurikulum adalah dengan
perencanaan kesempatan-kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membina siswa
atau peserta didik ke arah perubahan perilaku yang diinginkan dan menilai
hingga dimana perubahan-perubahan tersebut telah terjadi pada diri siswa yang
bersangkutan.
Menurut Subandijah, pengembangan kurikulum adalah suatu proses perencanaan,
menghasilkan alat yang lebih baik dengan didasarkan pada hasil penilaian
terhadap kurikulum yang telah berlaku, sehingga dapat memberikan kondisi yang
lebih baik.
Jadi, dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pengembangan
kurikulum menunjuk pada kegiatan menghasilkan kurikulum, kegiatan ini lebih
bersifat konseptual daripada material, yang dimaksud dalam pengembangan ini
adalah penyusunan, pelaksanaan, penilaian dan penyempurnaan yang selanjutnya
menghasilkan kurikulum baru sebagai hasil dari pengembangan yang dilakukan. Dan
pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam (PAI) dapat diartikan
sebagai kegiatan menghasilkan kurikulum PAI, proses yang mengkaitkan satu
komponen dengan komponen lain untuk menghasilkan kurikulum pendidikan agama
Islam (PAI) yang lebih baik.
B.    
Tujuan
Kurikulum PAI
Menurut Arifin dalam bukunya “Pendidikan Islam Dalam Arus Dinamika
Masyarakat
” menyatakan bahwa rumusan tujuan pendidikan Islam  adalah untuk merealisasikan manusia muslim
yang beriman, bertakwa dan berilmu pengetahuan yang mampu mengabdikan dirinya
kepada Sang Khalik dengan sikap dan kepribadian bulat menyerahkan diri
kepada-Nya dalam segala aspek kehidupannya dalam rangka mencari keridhoan-Nya.
Rumusan tujuan pendidikan Islam sangatlah relevan dengan rumusan tujuan
pendidikan nasional. Rumusan tujuan pendidikan nasional, ialah mencerdaskan kehidupan
bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yakni manusia yang
beriman, bertakwa kapada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, memiliki
pengetahuan dan keterampilan, sehat jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap
dan mandiri dan memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Dan jika dihubungkan dengan filsafat Islam, maka kurikulumnya tentu mesti
menyatu (integral) dengan ajaran Islam itu sendiri. Tujuan yang akan
dicapai kurikulum PAI ialah membentuk anak didik menjadi berakhlak mulia, dalam
hubungannya dengan hakikat penciptaan manusia. Pendidikan agama Islam merupakan
usaha sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik dalam meyakini,
memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan,
pengajaran dan pelatihan. Maka secara garis besar (umum) tujuan
pendidikan agama Islam adalah untuk meningkatkan keimanan, pemahaman,
penghayatan dan pengamalan siswa terhadap ajaran agama Islam, sehingga ia
menjadi manusia muslim yang bertakwa kepada Allah SWT, serta berakhlak mulia
baik dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Tujuan tersebut tetap berorientasi pada tujuan penyebutan nasional yang
terdapat dalam UU No. 20 tahun 2003. Selanjutnya tujuan umum PAI diatas
dijabarkan pada tujuan masing-masing lembaga pendidikan sesuai dengan jenjang
pendidikan yang ada. Selain itu, pendidikan agama Islam sebagai sebuah program
pembelajaran yang diarahkan untuk:
1.     
Menjaga akidah dan
ketakwaan peserta didik
2.     
Menjadi landasan untuk
lebih rajin mempelajari dan mendalami ilmu-ilmu agama
3.     
Mendorong peserta didik
untuk lebih kritis, kreatif dan inovatif
4.     
Menjadi landasan
perilaku dalam kehidupan sehari-hari didalam masyarakat. Dengan demikian bukan
hanya mengajarkan pengetahuan secara teori semata tetapi juga untuk
dipraktekkan atau diamalkan dalam kehidupan sehari-hari (membangun etika
sosial)
.
C.   
Fungsi
Kurikulum PAI
Kurikulum PAI untuk sekolah atau madrasah berfungsi sebagai berikut
:
1)     
Pengembangan
Pengembangan
yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik pada Allah SWT yang
telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga.
2)     
Penanaman Nilai
Penanaman
nilai sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan hidup di dunia dan di
akhirat.
3)     
Penyesuaian
Mental
Penyesuaian
mental yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baik lingkungan fisik
maupun lingkungan sosial dan dapat mengubahnya sesuai dengan ajaran Islam.
Perbaikan
yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dan kelemahan-kelemahan peserta
didik dalam keyakinan, pemahaman dan pengalaman ajaran Islam dalam kehidupan
sehari-hari.
Pencegahan
yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya atau dari budaya lain
yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangannya menuju Indonesia
seutuhnya.
Pengajaran
ini tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum, sistem dan fungsional.
Penyaluran
yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat khusus di bidang agama
Islam agar dapat berkembang secara optimal, sehingga bermanfaat untuk dirinya
dan masyarakat.
D.   
Pengembangan
Kurikulum PAI
1)     
Asas
Pengembangan Kurikulum PAI
Pengelolaan materi kurikulum di sekolah ditujukan untuk menjaga,
mempertahankan dan mengupayakan agar materi kurikulum yang telah di susun dan
diberlakukan berjalan sebagaimana mestinya, sehingga tujuan-tujuan pendidikan
sesuai dengan tingkat dan jenisnya dapat dicapai oleh para siswa. Sedangkan
pengembangan materi kurikulum merupakan upaya lebih lanjut dan agar diperoleh
nilai tambah menuju peningkatan proses dan kualitas pendidikan di sekolah.
Tugas dan tanggung jawab pengelolaan dan pengembangan kurikulum di sekolah
berada di tangan kepala sekolah dan guru, disamping para supervisor dan tenaga
administrasi. Oleh karena itu, para kepala sekolah dan guru tidak hanya dituntut
menguasai kurikulum dengan segala perangkatnya, tetapi juga perlu memiliki
wawasan, sikap, kemampuan dalam mengelola dan mengembangkan.
Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang
dinamis. Hal ini berarti bahwa kurikulum selalu dikembangkan dan disempurnakan
agar sesuai dengan laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta
masyarakat yang sedang membangun. Pada dasarnya, pengembangan kurikulum sangat
kompleks karena banyak faktor yang terlibat didalamnya. Diketahui bahwa setiap
kurikulum didasarkan pada sejumlah asas yang akan digunakannya seperti:
a.      
Asas Religius (Agama)
Asas
religius ditetapkan berdasarkan nilai-nilai Ilahi yang tertuang dalam al-Qur’an
maupun as-Sunnah, karena kedua kitab tersebut merupakan kebenaran yang universal,
abadi dan bersifat futuristik.
Nabi saw bersabda:“Sesungguhnya aku telah meninggalkan kepadamu yang apabila
kalian berpegang teguh kepadanya, maka kalian tidak akan sesat selamanya, yaitu
Kitabullah.”
(H.R Abu Dawud)
Disamping
kedua sumber tersebut, dalam pendidikan Islam juga bersumber dalam dalil
ijtihad, suatu hasil pemikiran manusia yang tidak berlawanan dengan jiwa dan
semangat al-Qur’an dan as-Sunnah. Dalam ijtihad dapat berupa ‘ijma (konsensus
para ulama)
, qiyas (analogi), istihsan, istihsab, mashalikhus
mursalah, mazhab sahabi, sadzdzudz dzariah, syar’u man qoblana dan ‘urf.
b.     
Asas Filosofis
Filsafat
suatu bangsa akan sangat mewarnai tujuan pendidikan dalam sistem pendidikan
yang dijalankan. Di Indonesia, karena Pancasila telah disepakati dan diyakini
bersama sebagai dasar ideal kerohanian negara, hukum dari segala hukum, dasar
segala tingkah laku, maka Pancasilalah yang dijadikan dasar acuan dan tujuan
pendidikan.
Dengan demikian, asas filosofis Pancasila yang dianut oleh negara
kita dengan prinsip demokratis, mengandung makna bahwa peserta didik diberi
kebebasan untuk berkembang dan mampu berfikir intelegen dalam kehidupan
masyarakat, melakukan aktivitas yang dapat memberikan manfaat terhadap hasil
akhir dan menekankan nilai-nilai manusiawi dan kultural dalam pendidikan.
c.      
Asas Psikologis
Asas
ini memberi arti bahwa kurikulum pendidikan hendaknya disusun dengan
mempertimbangkan tahapan-tahapan pertumbuhan anak dan perkembangan yang dilalui
anak didik. Kurikulum pendidikan harus dirancang sejalan dengan ciri-ciri
perkembangan anak didik, tahap kematangan bakat-bakat jasmani, intelektual,
bahasa, emosi dan sosial, kebutuhan dan keinginan, minat, kecakapan, perbedaan
individual dan lain sebagainya yang berhubungan dengan aspek-aspek psikologis.
d.     
Asas Sosiologis
Kurikulum
diharapkan turut serta dalam proses kemasyarakatan terhadap siswa, penyesuaian
mereka dengan lingkungannya, pengetahuan dan kemahiran yang menambah
produktifitas dan keikutsertaan mereka dalam membina umat dan bangsanya.
Dengan
dijadikannya sosiologis sebagai asas atau landasan dalam pengelolaan dan
pengembangan kurikulum, maka peserta didik nantinya diharapkan mampu bekerja
sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
e.      
Asas
Organisatoris
Hal
ini berhubungan dengan masalah pengorganisasian kurikulum, yaitu tentang
penyajian mata pelajaran yang harus disampaikan kepada anak.
f.      
Asas Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi
Perkembangan
IPTEK akan mempengaruhi perkembangan setiap individu, warga masyarakat,
mempengaruhi pengetahuan, kecakapan, sikap, aspirasi, minat, semangat,
kebiasaan dan bahkan pola-pola hidup mereka.
Dengan IPTEK sebagai landasan, peserta didik diharapkan mampu mengikuti
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan kesenian sesuai dengan sistem
nilai, kemanusiaan dan budaya bangsa.
Mengacu
kepada asas-asas pengembangan kurikulum diatas, maka tujuan kegiatan siswa akan
menekankan pada pengembangan sikap dan perilaku agar berguna dalam suatu
kehidupan masyarakat yang demokratis. Kurikulum bersifat spesifik untuk
mencapai kompetensi yang diperlukan dalam melaksanakan pekerjaan tertentu
setelah lulus dari sekolah.
2)     
Prinsip
Pengembangan Materi Kurikulum
Pengembangan kurikulum harus didasarkan pada prinsip-prinsip yang
berlaku. Hal ini dimaksudkan agar hasil pengembangan kurikulum tersebut sesuai
dengan minat, bakat, kebutuhan peserta didik, lingkungan, kebutuhan daerah
sehingga dapat memperlancar pelaksanaan proses pendidikan dalam rangka
pewujudan atau pencapaian tujuan pendidikan nasional.
Adapun
prinsip-prinsip tersebut diatas, adalah :
a.      
Prinsip
Relevansi
Ada
dua macam relevansi yang harus dimiliki kurikulum yaitu, relevan ke luar dan
relevan kurikulum itu sendiri. Relevansi ke luar maksudnya tujuan, isi dan
proses belajar yang tercakup dalam kurikulum hendaknya relevan dengan tuntutan,
kebutuhan, dan perkembangan masyarakat. Sementara relevansi didalam maksudnya
antara tujuan, isi, proses penyampaian dan penilaian. Relevansi internal ini
menunjukkan suatu keterpaduan kurikulum.
b.     
Prinsip
Efektivitas dan Efisiensi
Walaupun
kurikulum tersebut harus murah dan sederhana tetapi keberhasilannya tetap harus
diperhatikan. Pengembangan kurikulum tidak dapat dilepaskan dan merupakan
penjabaran dari perencanaan pendidikan. Perencanaan dibidang pendidikan juga
merupakan bagian yang dijabarkan dari kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah di
bidang pendidikan. Keberhasilan kurikulum akan mempengaruhi keberhasilan
pendidikan.
c.      
Prinsip
Kesinambungan (Continuitas)
Kurikulum
sebagai wahana belajar yang dinamis perlu dikembangkan terus menerus dan
berkesinambungan. Kesinambungan dalam kurikulum menyangkut ke saling hubungan
antara saling jalin menjalin antara berbagai tingkat dan jenis program
pendidikan atau bidang studi.
Kesinambungan
antar berbagai bidang studi menunjukkan bahwa dalam mengembangkan kurikulum
harus memperhatikan keterkaitan antara bidang studi yang satu dengan yang
lainnya.
d.     
Prinsip
Fleksibilitas
Kurikulum
hendaknya memilih sifat lentur atau fleksibel. Kurikulum mempersiapkan anak
untuk kehidupan sekarang dan yang akan datang, disini dan di tempat lain, bagi
anak yang mempunyai latar belakang dan kemampuan yang berbeda. Suatu kurikulum
yang baik adalah kurikulum yang berisi hal-hal yang solid, tetapi dalam
pelaksanaannya memungkinkan terjadiya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan
kondisi daerah, waktu maupun kemampuan dan latar belakang anak.
e.      
Prinsip
Berorientasi pada Tujuan
Prinsip
merupakan arah yang harus diikuti dan dituju dalam melaksanakan proses
pengajaran dan pendidikan. Tujuan merupakan kriteria yang harus dipenuhi dalam
pemilihan dan kegiatan serta pengalaman belajar agar hal itu dapat dicapai
secara efektif dan fungsional. Prinsip berorientasi pada tujuan berarti sebelum
bahan ditentukan, maka langkah pertama yang dilakukan oleh seorang guru adalah
menentukan tujuan terlebih dahulu, agar kegiatan pengajaran benar-benar terarah
pada tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
f.      
Prinsip
Sinkronisasi
Prinsip
sinkronisasi dimaksudkan adanya sifat yang seirama, searah dan setujuan pada
semua kegiatan yang disarankan oleh kurikulum. Jika semua komponen dan semua
kegiatan yang disarankan satu dengan yang lain tidak bertentangan akan
memungkinkan tercapainya tujuan pendidikan yang diharapkan.
g.     
Prinsip Seumur
Hidup
Proses
pendidikan tidak saja dilakukan di sekolah dan tidak juga merupakan monopoli
sekolah. Namun proses pendidikan dapat dilakukan di luar sekolah, misalnya
dalam keluarga dan masyarakat. Prinsip pendidikan seumur hidup mengandung
implikasi lain, yaitu agar sekolah tidak saja memberi pengetahuan dan
keterampilan yang diperlukan pada saat peserta didik tamat dari sekolah, namun
juga memberikan bekal kemampuan untuk dapat menumbuhkembangkan dirinya sendiri.
Seperangkat kegiatan kurikulum sedapatnya harus memberikan
sumbangsih yang bersifat dinamis terhadap kebutuhan-kebutuhan yang diinginkan
oleh anak didik dan masyarakat pada umumnya. Hal ini di karenakan kebutuhan
tersebut selalu berubah dan berkembang, sehingga tuntutan kurikulum harus
bersifat futuristik. Allah SWT melandasi prinsip-prinsip tersebut dalam firman-Nya
surat al-Hijr ayat 99:“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang
diyakini (ajal).”
Dan dalam firman yang lain surat al-Baqarah ayat 132: “Maka
janganlah kamu mati kecuali dalam (masih) memeluk agama Islam.”
Selain prinsip-prinsip diatas, dalam pengelolaan dan pengembangan
kurikulum PAI yang berbasis kompetensi juga didasarkan pada prinsip-prinsip
sebagai berikut:
a)     
Prinsip
Keimanan, Nilai dan Budi Pekerti Luhur
Keimanan,
nilai-nilai dan budi pekerti luhur yang dianut dan dijunjung tinggi masyarakat
sangat berpengaruh terhadap sikap dan arti kehidupannya. Oleh karena itu, hal
tersebut perlu digali, dipahami dan diamalkan oleh peserta didik melalui
pengembangan kurikulum berbasis kompetensi.
b)     
Prinsip
Penguatan Integritas Nasional
Pengembangan
kurikulum berbasis kompetensi bidang studi PAI harus memperhatikan penguatan
integritas nasional melalui pendidikan akidah akhlak yang memberikan pemahaman
tentang masyarakat Indonesia yang majemuk dan kemajuan peradaban dalam tatanan
kehidupan dunia yang multikultural dan multibahasa.
c)     
Prinsip
Keseimbangan Etika, Logika, Estetika dan Kinestetika
Keseimbangan
pengalaman belajar siswa yang meliputi etika, logika, estetika dan kinestetika
sangat dipertimbangkan dalam penyusunan kurikulum dan hasil belajar pendidikan
agama Islam.
d)    
Prinsip
Kesamaan Memperoleh Kesempatan
Pengembangan
kurikulum berbasis kompetensi mata pelajaran akidah akhlak seyogyanya dapat
memberdayakan semua peserta didik untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan
dan sikap. Seluruh peserta didik dari berbagai kelompok seperti kelompok yang
kurang beruntung secara ekonomi dan sosial, yang memerlukan bantuan khusus,
berbakat dan unggul berhak menerima pendidikan yang tepat sesuai dengan
kemampuan dan kecepatannya.
e)     
Prinsip
Perkembangan Pengetahuan dan Teknologi Informasi
Keyakinan
tauhid, dan kesadaran berakhlak karimah mendasari kemampuan berfikir dan
belajar dengan mengakses, memilih dan menilai pengetahuan untuk mengatasi
situasi yang cepat berubah dan penuh ketidak pastian merupakan kompetensi
penting dalam menghadapi abad ilmu pengetahuan dan teknologi informasi.
f)      
Prinsip
Pengembangan Keterampilan Hidup
Kurikulum
berbasis kompetensi perlu memasukkan unsur keterampilan, sikap, dan perilaku
adaptif, kooperatif, dan kolaboratif dalam menghadapi tantangan dan tuntutan
kehidupan sehari-hari secara efektif. Kurikulum juga perlu mengintegrasikan
unsur-unsur penting yang menunjang kemampuan untuk bertahan hidup.
g)     
Prinsip
Berpusat pada Anak
Pengembangan
kurikulum seyogyanya mampu memandirikan peserta didik untuk belajar, bekerjasama,
dan menilai diri sendiri agar mampu membangun pemahaman dan pengetahuannya.
Penilaian berkelanjutan dan kompherensif menjadi sangat penting dalam rangka
pencapaian upaya tersebut.
h)     
Prinsip
Pendekatan Menyeluruh dan Kemitraan
Semua
pengalaman belajar dirancang secara berkesinambungan mulai dari level yang
paling rendah sampai yang tertinggi. Pendekatan yang digunakan dalam
mengorganisasikan pengalaman belajar berfokus pada kebutuhan siswa yang
bervariasi dan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu. Keberhasilan pencapaian
pengalaman belajar menuntut kemitraan dan tanggung jawab bersama dari siswa,
guru, sekolah, orang tua, perguruan tinggi, dunia usaha dan industri, dan
masyarakat.
3)     
Pendekatan
Pengembangan Materi Kurikulum
Pendekatan pengembangan kurikulum adalah cara kerja dengan
menerapkan strategi dan metode yang tepat dengan mengikuti langkah-langkah
pengembangan yang sistematis untuk menghasilkan kurikulum yang lebih baik. Ada
berbagai macam pendekatan yang dapat digunakan dalam mengembangkan materi
kurikulum PAI, diantaranya :
a.      
Pendekatan
Keimanan
Pendekatan
keimanan yaitu memberi peluang kepada peserta didik untuk mengembangkan
pemahaman adanya Tuhan sebagai sumber kehidupan makluk sejagat ini.
b.     
Pendekatan
Pengalaman
Pendekatan
pengalaman yaitu memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mempraktekkan
dan merasakan hasil-hasil pengalaman ibadah dan akhlak dalam menghadapi
tugas-tugas dan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
c.      
Pendekatan
Pembiasaan
Pendekatan
pembiasaan yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membiasakan
sikap dan perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam dan budaya bangsa dalam
menghadapi masalah kehidupan.
d.     
Pendekatan
Rasional
Pendekatan
rasional yaitu usaha memberikan peranan pada rasio atau akal peserta didik
dalam memahami dan membedakan berbagai bahan ajar dalam standar materi serta
kaitannya dengan perilaku yang baik dan yang buruk dalam kehidupa duniawi.
e.      
Pendekatan
Emosional
Pendekatan
emosional yaitu upaya menggugah perasaan (emosi) peserta didik dalam
menghayati perilaku yang sesuai dengan ajaran agama dan budaya bangsa.
f.      
Pendekatan
Fungsional
Pendekatan
fungsional yaitu menyajikan bentuk semua standar materi (al-qur’an, keimanan
akhlak, fiqih atau ibadah dan tarikh)
dari segi manfaatnya bagi peserta
didik dalam kehidupan sehari-hari dalam arti luas.
g.     
Pendekatan
Keteladanan
Pendekatan
keteladanan yaitu menjadikan figur guru agama dan non agama serta petugas
sekolah lainnya maupun orang tua peserta didik sebagai cermin manusia yang
berkepribadian.
4)     
Penilaian
Materi Kurikulum PAI
Kegiatan pengembangan materi kurikulum tidak akan lepas dari unsur
penilaian. Penilaian merupakan salah satu komponen yang amat penting yang tak
dapat diabaikan begitu saja. Dalam banyak hal, komponen penilaian akan sangat
berperan dalam menunjang keberhasilan pengembangan kurikulum tersebut.
Pelajaran PAI yang kandungan isi materinya sarat dengan muatan
norma dan nilai-nilai didalamnya, tentunya memerlukan penilaian yang dilakukan
bukan hanya terfokus pada satu aspek saja (kognitifnya) seperti yang
selama ini dilakukan, tapi harus menyeluruh. Selain aspek kognitif juga aspek
afektif dan psikomotornya. Keseluruhan aspek yang harus dinilai berdasarkan
atas konsep keterpaduan materi dan proses penyelenggaraan pendidikan yang
meliputi keterpaduan antara lingkungan pendidikan yaitu, keluarga, sekolah dan
masyarakat.
Paradigma baru PAI menghendaki dilakukannya inovasi yang
terintegrasi dan berkesinambungan. Salah satu wujudnya adalah inovasi yang
dilakukan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Kebiasaan guru
mengumpulkan informasi mengenai tingkat pemahaman siswa melalui pertanyaan,
observasi, pemberian tugas dan tes akan sangat bermanfaat dalam menentukan
tingkat penguasaan siswa dan dalam evaluasi ke efektifan proses pembelajaran.
Informasi yang akurat tentang hasil belajar, minat dan kebutuhan
siswa, hanya dapat diperoleh melalui assessment dan evaluasi yang efektif. Hal
ini sesuai dengan ketentuan penilaian berbasis kelas (PBK), yang
memperhatikan ketiga ranah yaitu kognitif (pengetahuan), afektif (sikap),
dan psikomotor (keterampilan). Ketiga ranah ini sebaiknya di nilai
secara proporsional sesuai dengan sifat mata pelajaran yang bersangkutan.
1.     
Pendidikan
agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik
untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani ajaran agama Islam,
dibarengi dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam
hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan
bangsa. Pengembangan kurikulum adalah kegiatan untuk menghasilkan kurikulum
baru melalui langkah-langkah penyusunan kurikulum atas dasar hasil penilaian
yang dilakukan selama periode tertentu, pengembangan kurikulum berarti
perubahan dan peralihan total dari satu kurikulum ke kurikulum lain, dan
perubahan ini berlangsung dalam waktu panjang.
Pengembangan
kurikulum pendidikan agama Islam (PAI) dapat diartikan sebagai kegiatan
menghasilkan kurikulum PAI, proses yang mengkaitkan satu komponen dengan komponen
lain untuk menghasilkan kurikulum pendidikan agama Islam (PAI) yang
lebih baik.
2.     
 Secara garis besar (umum) tujuan
pendidikan agama Islam adalah untuk meningkatkan keimanan, pemahaman,
penghayatan dan pengamalan siswa terhadap ajaran agama Islam, sehingga ia
menjadi manusia muslim yang bertakwa kepada Allah SWT, serta berakhlak mulia
baik dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
3.     
Kurikulum PAI
untuk sekolah atau madrasah berfungsi sebagai Pengembangan, Penanaman Nilai,
Penyesuaian Mental, Perbaikan, Pencegahan, Pengajaran dan Penyaluran.
4.     
Telah diketahui
bahwa setiap kurikulum didasarkan pada sejumlah asas yang akan digunakannya
seperti, asas religius (agama), asas filosofis, asas psikologis, asas
sosiologis, asas organisatoris dan asas ilmu pengetahuan dan teknologi. Adapun
prinsip-prinsip pengembangan kurikulum tersebut, yaitu prinsip relevansi,
prinsip efektivitas dan efisiensi, prinsip kesinambungan (continuitas), prinsip
fleksibilitas, prinsip berorientasi pada tujuan, prinsip sinkronisasi dan
prinsip seumur hidup. Selain prinsip-prinsip itu, dalam pengelolaan dan
pengembangan kurikulum PAI yang berbasis kompetensi juga didasarkan pada
prinsip-prinsip yakni prinsip keimanan, nilai, dan budi pekerti luhur, prinsip
penguatan integritas nasional, prinsip keseimbangan etika, logika, estetika,
dan kinestetika, prinsip kesamaan memperoleh kesempatan, prinsip perkembangan
pengetahuan dan teknologi informasi, prinsip pengembangan keterampilan hidup,
prinsip berpusat pada anak dan prinsip pendekatan menyeluruh dan kemitraan.
Ada
berbagai macam pendekatan yang dapat digunakan dalam mengembangkan materi
kurikulum PAI, diantaranya pendekatan keimanan, pendekatan pengalaman,
pendekatan pembiasaan, pendekatan rasional, pendekatan emosional, pendekatan
fungsional dan pendekatan keteladanan. Kegiatan pengembangan materi kurikulum
tidak akan lepas dari unsur penilaian. Penilaian merupakan salah satu komponen
yang amat penting yang tak dapat diabaikan begitu saja. Dalam banyak hal,
komponen penilaian akan sangat berperan dalam menunjang keberhasilan
pengembangan kurikulum tersebut.  Informasi yang akurat tentang hasil belajar,
minat dan kebutuhan siswa, hanya dapat diperoleh melalui assessment dan
evaluasi yang efektif. Hal ini sesuai dengan ketentuan penilaian berbasis kelas
(PBK), yang memperhatikan ketiga ranah yaitu kognitif (pengetahuan),
afektif (sikap), dan psikomotor (keterampilan). Ketiga ranah ini
sebaiknya di nilai secara proporsional sesuai dengan sifat mata pelajaran yang
bersangkutan.
1.      Agar mampu memahami pengertian pengembangan kurikulum PAI serta
dapat mengaplikasikannya sesuai dengan kurikulum yang tercantum dalam PAI.
2.       Dapat mengetahui dan memahami tujuan
yang terdapat dalam kurikulum PAI serta bisa menyesuaikannya dengan tujuan
pendidikan nasional.
3.      Agar dapat memahami fungsi yang terdapat dalam kurikulum PAI serta
dapat mengaplikasikannya dengan baik.
4.      Agar dapat memahami pengembangan kurikulum PAI serta dapat
mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari dan seorang pendidik juga mampu
mengembangkan kurikulum PAI dengan baik dan benar.
Majid, Abdul dan Andayani, Dian. 2004. Pendidikan Agama Islam
Berbasis Kompetensi.
Bandung: Remaja Rosdakarya
Departemen, Pendidikan Nasional. 2003. Pedoman Umum Standar
Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam SMP dan Madrasah Tsanawiyah.
Jakarta:
Puskur
Hafi, Anshari. M. 1973. Pemahaman dan Pengamalan Dakwah Pedoman
untuk Mujahid Dakwah.
Surabaya: al-Ikhlas
Muhaimin dan Majid, Abdul. 1993. Pemikiran Pendidikan Islam:
Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya.
Bandung: Trigenda
Karya
Imam al-Khafidz Abi Dawud Sulaiman ibn al-Ats’ats al-Sijistani.
1996. Sunan Abi Dawud. Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah
Nizar, Samsul dan Halim, Abdul. 2002. Filsafat Pendidikan Islam;
Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis.
Jakarta: Ciputat Pers
Arief, Armai. 2002. Pengantar Ilmu dan Metodologi Islam.
Jakarta: Ciputat Pers
Syaodih Sukmadinata, Nana. 2000. Pengembangan Kurikulum: Teori
dan Praktek.
Bandung: Remaja Rosdakarya
Soetopo, Hendyat dan Soenanto, Wast. 1993. Pembinaan dan
Pengembangan Kurikulum,
Jakarta: Bumi Aksara
Hamalik, Oemar. 1993. Sistem dan Prosedur Pengembangan Kurikulum
Lembaga Pendidikan dan Pelatihan.
Bandung: Trigendi Karya
Subandiah. 1996. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Jakarta:
Raja Grafindo Persada
Hamdan. 2009. Pengembangan dan Pembinanaan Kurikulum (Teori dan Praktek Kurikulum PAI). Banjarmasin



  Hamdan, Pengembangan dan Pembinanaan Kurikulum (Teori dan Praktek Kurikulum PAI), Banjarmasin, 2009, hlm.40

hanya keranaNya

Sesungguhnya kemuliaan ialah hak bagi kedua-dua orang yang berkasih sayang kerana Allah S.W.T. Dimana pada hari tersebut (kiamat) Allah Taala Rabbul Izzah menyeru mereka dan mempersilakan mereka untuk menerima anugerah yang paling tinggi, iaitu pada hari berhimpunnya...

Akhirul Kalam: Wanita-wanita Perindu Syurga

Setiap insan tentunya mendambakan kenikmatan yang paling tinggi dan abadi. Kenikmatan itu adalah Syurga. Dalam Al Qur'an banyak sekali ayat-ayat yang menggambarkan kenikmatan-kenikmatan Syurga."(Apakah) perumpamaan (penghuni) Syurga yang dijanjikan kepada orang-orang...

hati terjauhlah dari korban dunia

Sesekali hati mengeluh dengan kesusahan dan kepayahan hidup. Terasa pedih dan rapuh, sakitnya seperti tiada hati lain yang mampu mengerti. Namun tidak tersedarkah hati itu adalah ujian dari Tuhannya? Kepayahan itu sesungguhnya adalah bentuk tarbiyahNya kepada hati....

tafsir talqin

Peringatan Untuk Yang HidupMahasuci Tuhan yang Engkau bersifat dengan Baqa' dan Qidam, Tuhan yang berkuasa mematikan sekalian yang bernyawa, Mahasuci Tuhan yang menjadikan mati dan hidup untuk menguji siapa yang baik dan siapa yang kecewa.Mahasuci Tuhan yang...

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.